Ringkasan H&M Tutup 160 Toko
- H&M berencana menutup 160 gerai global sepanjang 2026.
- Langkah ini fokus pada efisiensi dan peningkatan profit.
- Peralihan ke e-commerce menjadi faktor utama perubahan.
H&M Akan Tutup 160 Gerai pada 2026
Perusahaan ritel fesyen asal Swedia, H&M, mengumumkan rencana penutupan sekitar 160 gerai sepanjang tahun 2026.
Dilansir dari The Sun, sebelumnya H&M telah menutup 163 toko di seluruh dunia sebagai bagian dari strategi beralih ke e-commerce.
Laba perusahaan sedikit menurun pada kuartal pertama seiring penyesuaian terhadap jumlah toko yang lebih sedikit.
Salah satu fokus utama restrukturisasi H&M adalah penguatan e-commerce, yang kini menyumbang sekitar 30% dari total pendapatan.
“Pembeli kini lebih berorientasi pada nilai, lebih banyak berbelanja secara online, dan semakin tidak loyal terhadap toko fisik tradisional,”
Dominick Miserandino sebelumnya kepada The U.S. Sun.
Mengacu pada laporan Business Insider, tren penutupan toko ritel global terus meningkat, dengan lebih dari 1.500 toko di Amerika Serikat diprediksi tutup sepanjang 2026.
Fenomena ini mencerminkan perubahan besar dalam industri ritel, terutama akibat pergeseran ke e-commerce.
Alasan H&M Menutup Banyak Toko Fisik
Peralihan ke E-Commerce
H&M Group semakin memperkuat fokus pada e-commerce sebagai respons terhadap perubahan perilaku konsumen.
Layanan digital saat ini menyumbang sekitar 30% dari total pendapatan perusahaan, menunjukkan peran yang semakin dominan.
Hal ini mendorong H&M untuk mengalihkan investasi dari toko konvensional ke pengembangan ekosistem digital.
Optimalisasi Portofolio Toko
H&M mengevaluasi tokonya secara global untuk memastikan setiap lokasi memberikan kontribusi maksimal terhadap profitabilitas.
Perusahaan menutup toko yang kurang produktif dan mengalihkan sumber daya ke gerai unggulan melalui renovasi, relokasi, dan penyesuaian format.
Penurunan Penjualan
Pada kuartal I tahun fiskal 2026, perusahaan mencatat penurunan penjualan sekitar 1% secara tahunan dalam mata uang lokal.
Penurunan ini sebagian dipengaruhi oleh berkurangnya jumlah toko sekitar 4% akibat restrukturisasi.
Meski demikian, langkah ini tetap dipandang sebagai strategi jangka panjang untuk meningkatkan efisiensi dan profitabilitas.
Faktor Eksternal yang Mempengaruhi
Tekanan eksternal yang dihadapi H&M Group berkaitan langsung dengan kondisi ekonomi global terbaru.
Inflasi di negara maju seperti Eropa diproyeksikan sekitar 2,6% pada 2026, dengan kenaikan dipicu oleh harga energi yang lebih tinggi
Lembaga seperti OECD memperkirakan inflasi di negara G20 masih berada di kisaran 2,8% pada 2026, mencerminkan tekanan harga yang belum sepenuhnya reda .
Dari sisi geopolitik, konflik seperti Iran War 2026 dan gangguan di Strait of Hormuz memicu krisis energi global.
Harga minyak sempat melonjak hingga mendekati atau melampaui $100 per barel, sementara harga gas di Eropa hampir dua kali lipat dalam waktu singkat .
Kenaikan ini berdampak langsung pada biaya listrik, transportasi, dan rantai pasok ritel.
Bagi industri seperti fashion, tekanan biaya dan melemahnya konsumsi membuat perusahaan termasuk H&M perlu menutup toko fisik.
FAQ Tentang “H&M Tutup 160 Toko”
Apakah H&M benar-benar menutup 160 toko pada 2026?
Ya, H&M telah mengonfirmasi rencana penutupan sekitar 160 gerai secara global sepanjang tahun 2026.
Apakah ini berarti H&M sedang mengalami penurunan bisnis?
Tidak sepenuhnya, langkah ini lebih kepada penyesuaian model bisnis dan efisiensi operasional.
Kenapa H&M menutup banyak toko fisik?
Perubahan ke belanja online dan evaluasi performa toko menjadi alasan utama.
Apakah Indonesia terdampak penutupan ini?
Belum ada pengumuman resmi terkait gerai di Indonesia hingga saat ini.
Bagaimana dampaknya bagi konsumen?
Konsumen akan lebih diarahkan ke pengalaman belanja digital dan gerai unggulan.
Baca Juga:
Apple Beri Bonus Besar Karyawan untuk Tahan Talenta dari OpenAI & Meta







