- Manajemen memiliki proporsi terbesar sebesar 10,3%, diikuti Hukum, Ekonomi, Pendidikan, dan Akuntansi
- Proporsi tersebut bukan tingkat pengangguran masing-masing jurusan
- Sekitar 8 juta lulusan sarjana juga bekerja di bawah tingkat pendidikannya
- Hasil karier dipengaruhi kecocokan pendidikan, kompetensi, pengalaman, dan kebutuhan industri
Pilihan jurusan kuliah sering dianggap sebagai salah satu penentu masa depan karier.
Apalagi semakin banyak lulusan dari suatu bidang, semakin besar pula persaingan yang mungkin dihadapi.
Namun, apakah banyaknya lulusan yang menganggur berarti peluang kerja jurusan tersebut lebih sedikit?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Associe akan mengulas jurusan kuliah paling banyak pengangguran sesuai data data terbaru.
5 Jurusan Kuliah Paling Banyak Pengangguran
Laporan Labor Market Brief LPEM FEB UI edisi Juli 2026, yang mengolah data Sakernas Agustus 2025, menunjukkan bahwa kelima bidang tersebut secara keseluruhan mencakup sekitar 40% pengangguran berpendidikan minimal S1.
| Peringkat | Bidang Studi | Proporsi |
|---|---|---|
| 1 | Manajemen | 10,3% |
| 2 | Hukum | 9,0% |
| 3 | Ekonomi | 8,7% |
| 4 | Pendidikan | 7,1% |
| 5 | Akuntansi | 5,1% |
Lima bidang studi tersebut secara keseluruhan mencakup sekitar 40% dari kelompok pengangguran berpendidikan minimal S1 yang dianalisis.
- Manajemen (10,3%): Menyumbang porsi terbesar, salah satunya karena jumlah mahasiswa dan lulusan yang sangat besar sehingga persaingan kerja cukup ketat.
- Hukum (9,0%): Berada di posisi kedua. Pilihan karier cukup luas, tetapi persaingan entry-level dan keterbatasan formasi membuat sebagian lulusan membutuhkan waktu lebih lama untuk bekerja.
- Ekonomi (8,7%): Cakupan bidang yang luas membuat lulusannya bersaing dengan sesama lulusan ekonomi maupun bidang sosial-humaniora lainnya.
- Pendidikan (7,1%): Penyerapan lulusan dipengaruhi rekrutmen guru, ketersediaan formasi di daerah, serta regulasi profesi.
- Akuntansi (5,1%): Kebutuhan di dunia bisnis tetap tinggi, tetapi jumlah lulusan yang besar dan otomasi sistem keuangan membuat persaingan semakin ketat.
Sekilas, angka tersebut dapat membuat seseorang menyimpulkan bahwa Manajemen adalah jurusan dengan prospek kerja paling sedikit. Kesimpulan itu belum tepat.
Angka 10,3% Bukan Berarti 10,3% Lulusan Menganggur
Ini adalah konteks penting dalam membaca data tersebut.
Angka 10,3% menunjukkan proporsi lulusan bidang Manajemen di antara pengangguran berpendidikan minimal S1.
Bukan persentase seluruh lulusan Manajemen yang menganggur. Jadi, angka tersebut tidak dapat langsung disebut sebagai unemployment rate jurusan Manajemen.
Bidang dengan jumlah lulusan besar secara statistik dapat menyumbang lebih banyak pengangguran.
Karena itu, tingkat pengangguran perlu dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja tiap bidang studi.
Data tersebut lebih tepat dibaca sebagai:
Jurusan mana yang paling banyak ditemukan di antara pengangguran sarjana?
Bukan:
Jurusan mana yang lulusannya paling sulit mendapatkan pekerjaan?
Perbedaan ini penting agar data tidak disalahartikan atau menimbulkan stigma terhadap jurusan tertentu.
Mengapa Jurusan Populer Banyak Muncul dalam Data Pengangguran?

Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan pola tersebut, mulai dari jumlah lulusan hingga persaingan di pasar kerja.
Jumlah lulusan menjadi salah satu faktor penting, bidang-bidang tersebut tersedia di banyak perguruan tinggi dan memiliki cakupan studi yang luas.
- Manajemen bersaing dengan jurusan lain untuk posisi pemasaran, administrasi, dan SDM
- Ekonomi dapat bersaing dengan Manajemen dan Akuntansi pada lowongan bisnis
- Hukum juga dapat masuk ke pekerjaan non-hukum yang tidak mensyaratkan jurusan tertentu
Gelar Sarjana Tidak Otomatis Menentukan Pekerjaan
Persaingan juga tidak hanya terjadi antar jurusan yang sama. Untuk sejumlah pekerjaan tingkat awal, lulusan dari berbagai bidang dapat bersaing dalam lowongan yang sama.
Selain gelar, perusahaan juga mempertimbangkan:
- Pengalaman dan magang
- Keterampilan teknis dan teknologi
- Kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah
Karena itu, kemunculan suatu jurusan dalam statistik pengangguran tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa prospek kerjanya buruk.
Sekitar 8 juta lulusan S1 masuk kategori overeducation, yaitu bekerja pada posisi yang tingkat pendidikannya berada di bawah kualifikasi mereka.
Dari kelompok ini, 60,6% bekerja sebagai tenaga tata usaha, jasa, dan penjualan, sementara sisanya tersebar di berbagai pekerjaan teknis, pertanian, operator, hingga pekerja kasar.
Apakah Manajemen, Hukum, Ekonomi, Pendidikan, dan Akuntansi Sulit Mendapat Kerja?
Belum tentu.
Data tersebut menunjukkan bahwa kelima bidang ini banyak ditemukan di antara pengangguran berpendidikan minimal S1, bukan berarti lulusannya paling sulit mendapatkan pekerjaan.
Berikut prospek, tantangan, dan nilai tambah dari jurusan terkait:
Manajemen
Prospek: Pilihan karier luas, mulai dari pemasaran, SDM, keuangan, hingga operasional
Tantangan: Persaingan tinggi karena lulusannya bersaing dengan berbagai jurusan
Nilai tambah: Digital marketing, analisis data bisnis, dan manajemen proyek
Hukum
Prospek: Peluang di bidang legal, compliance, korporasi, dan pemerintahan
Tantangan: Beberapa profesi memiliki persyaratan atau jalur sertifikasi khusus
Nilai tambah: Hukum bisnis, teknologi, bahasa asing, dan pengalaman magang
Ekonomi
Prospek: Dapat bekerja di sektor keuangan, riset, konsultansi, dan pemerintahan
Tantangan: Bersaing dengan lulusan Manajemen dan Akuntansi untuk sejumlah posisi
Nilai tambah: Ekonometrika, pemodelan ekonomi, dan analisis data
Pendidikan
Prospek: Kebutuhan tenaga pendidik tetap tersedia di berbagai wilayah dan institusi
Tantangan: Penyerapan dipengaruhi formasi, wilayah, dan persyaratan profesi
Nilai tambah: Teknologi pembelajaran, pengalaman mengajar, dan fleksibilitas penempatan
Akuntansi
Prospek: Dibutuhkan di hampir setiap perusahaan dan organisasi
Tantangan: Otomasi pekerjaan dasar dan persaingan tinggi di posisi pemula
Nilai tambah: Penguasaan ERP (Enterprise Resource Planning), perpajakan, dan sertifikasi profesional
Jadi, Apakah Jurusan Kuliah Masih Penting?
Tetap penting, tetapi jurusan bukan satu-satunya penentu masa depan karier.
Alih-alih hanya bertanya, “Jurusan apa yang paling banyak dibutuhkan?”, calon mahasiswa sebaiknya mempertimbangkan kompetensi yang bisa dibangun dan peluang penggunaannya di dunia kerja.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Prospek industri dan jenis pekerjaan
- Kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja
- Peluang magang dan membangun portofolio
- Perkembangan teknologi dan sertifikasi
- Minat serta kemampuan pribadi
Jika masih bingung menentukan jurusan atau arah karier yang sesuai dengan potensi diri, psikotes dapat membantu memberikan gambaran yang lebih objektif.
Associe menyediakan jasa psikotes individu untuk memetakan potensi dan membantu perencanaan karier.
Tersedia Tes Minat Bakat, Kepribadian, TPA, dan Tes Personal mulai Rp200 ribu, termasuk laporan dan rekomendasi. Cek jasa psikotes kami.
FAQ Seputar Jurusan Paling Banyak Pengangguran
Apa jurusan paling banyak pengangguran di Indonesia?
Manajemen memiliki proporsi terbesar, yaitu 10,3%, diikuti Hukum, Ekonomi, Pendidikan, dan Akuntansi.
Apakah Manajemen merupakan jurusan dengan tingkat pengangguran tertinggi?
Belum tentu. Angka 10,3% menunjukkan proporsi dalam kelompok pengangguran S1, bukan tingkat pengangguran lulusan Manajemen.
Apakah banyak pengangguran berarti jurusan sulit mendapat kerja?
Tidak otomatis. Jumlah lulusan, persaingan, kompetensi, dan kondisi pasar kerja turut memengaruhi.
Mengapa lulusan sarjana masih banyak yang menganggur?
Salah satunya karena jumlah lulusan tidak selalu seimbang dengan ketersediaan pekerjaan dan kebutuhan keterampilan di pasar kerja.
Apakah jurusan kuliah menentukan masa depan karier?
Jurusan penting sebagai fondasi, tetapi kompetensi, pengalaman, portofolio, kemampuan beradaptasi, dan kebutuhan industri juga berpengaruh.
Baca Juga:
Era Career Shifting: Cara Berkembang Saat Kerja Tidak Sesuai Jurusan
Cara Mengetahui Loker Palsu dan Hindari Modus Penipuan
Referensi:
LPEM FEB UI. (2026, 5 Agustus). Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap? – Labor Market Brief Juli 2026. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia.






