• Jumlah lapangan padel di Indonesia naik 435% dari 240 unit pada 2024 menjadi 947 unit pada 2025
  • Swedia mencatat lebih dari 100 fasilitas padel tutup pada periode 2022–2024 akibat pertumbuhan lapangan yang terlalu cepat
  • Pengelola lapangan perlu menanggung biaya operasional sekitar Rp30–50 juta per bulan agar bisnis tetap berjalan
  • Indonesia diproyeksikan memiliki sekitar 5.000 lapangan padel pada 2028 seiring pertumbuhan komunitas dan minat bermain yang masih tinggi

 

Setelah tahun-tahun era pandemi mulai berakhir, olahraga padel menarik perhatian masyarakat yang khususnya di perkotaan besar.

Lapangan padel baru bermunculan, komunitasnya berjamuran, hingga banyak investor melihat peluang besar.

Namun, belakangan muncul pertanyaan mengenai kondisi tren minat padel yang mulai berubah.

Apakah bisnis padel menurun hanya sementara atau menjadi tanda pasar mulai jenuh?

Associe akan membahasnya di artikel ini.

 

Bisnis Padel Sempat Tumbuh Sangat Cepat di Kota Besar

Padel adalah olahraga raket yang menggabungkan unsur tenis dan squash yang pertama kali berkembang di Meksiko pada akhir 1960-an sebelum populer di berbagai negara Eropa.

Popularitas padel di Indonesia mengikuti tren global yang mulai meningkat saat pandemi Covid-19.

Olahraga ini diminati karena mudah dipelajari, dimainkan secara berkelompok, dan memungkinkan interaksi sosial.

Jumlah fasilitas padel di Indonesia berkembang pesat, mulai dari 15 lapangan di Bali pada 2021 menjadi hampir ada di seluruh provinsi.

Dilansir dari GoodStats, jumlah lapangan padel naik dari 240 unit pada 2024 menjadi 947 unit pada 2025, atau tumbuh sekitar 435% dalam setahun.

Pertumbuhan ini setara dengan penambahan sekitar 3,8 lapangan baru setiap hari.

Tren tersebut juga didorong oleh konten media sosial, banyak figur publik, atlet, selebritas, hingga influencer membagikan aktivitas bermain padel.

Olahraga ini tidak hanya dipandang sebagai aktivitas fisik, tetapi juga bagian dari gaya hidup yang identik dengan community dan networking.

Melihat tingginya antusiasme masyarakat, banyak investor mulai membangun lapangan baru di berbagai lokasi.

Namun, pertumbuhan bisnis padel yang sangat cepat mulai memunculkan tantangan tersendiri.

Di Swedia, lapangan padel meningkat lebih dari 1.000% dalam beberapa tahun, tetapi pertumbuhan ini tidak berkelanjutan.

Akibat kelebihan pasokan, lebih dari 100 fasilitas padel tutup pada 2022–2024, meski minat masyarakat untuk bermain tetap ada.

 

Faktor yang Membuat Bisnis Padel Mulai Menurun

Terlalu Banyak Lapangan dalam Waktu Singkat

Salah satu alasan utama mengapa bisnis padel menurun adalah bertambahnya jumlah lapangan dalam periode yang relatif singkat.

Ketika tren sedang berada di puncak, banyak pelaku usaha berlomba membuka fasilitas baru untuk memanfaatkan tingginya permintaan pasar.

Masalah mulai muncul ketika jumlah lapangan yang tersedia melampaui kebutuhan aktual pemain.

Tingkat okupansi menjadi lebih rendah karena konsumen memiliki terlalu banyak pilihan.

Persaingan Semakin Ketat

Meningkatnya jumlah operator membuat persaingan harga menjadi semakin intens.

Banyak pengelola menawarkan diskon, paket membership, hingga promosi khusus demi menarik pelanggan baru.

Strategi tersebut memang dapat meningkatkan kunjungan dalam jangka pendek. Namun jika dilakukan terus-menerus, margin keuntungan berpotensi tergerus.

Pada akhirnya, bisnis harus mencari cara lain untuk menciptakan nilai tambah selain bersaing melalui harga.

Biaya Operasional yang Tinggi

Biaya operasional lapangan padel tergolong tinggi, mencapai sekitar Rp30–50 juta per bulan untuk kebutuhan gaji karyawan, listrik, perawatan fasilitas, pemasaran, dan pajak.

Dengan investasi awal pembangunan yang juga besar, pengelola membutuhkan tingkat penggunaan lapangan yang tinggi dan konsisten agar bisnis tetap menguntungkan.

 

Apakah Tren ‘FOMO’ Padel Sudah Mereda?

Munculnya tanda-tanda perlambatan bukan berarti olahraga padel kehilangan seluruh penggemarnya.

Ini bisa menjadi fase koreksi setelah pertumbuhan yang terlalu cepat menuju kondisi yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Dilansir dari The Conversation, data menunjukan komunitas padel di Indonesia masih menunjukkan perkembangan yang positif.

Bisnis padel di Indonesia tumbuh pesat dan diproyeksikan mencapai sekitar 5.000 lapangan pada 2028.

Hingga 2026, ketersediaan lapangan masih jauh di bawah potensi permintaan, hanya sekitar 0,9–9 lapangan per satu juta penduduk.

Kondisi ini turut menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar padel dengan pertumbuhan paling agresif di Asia Tenggara.

 

Tantangan Terkini Dalam Bisnis Lapangan Padel di Indonesia

Saat ini, lokasi menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan usaha.

Sejumlah fasilitas padel juga menghadapi tantangan sosial, seperti keluhan warga sekitar terkait kebisingan dan aktivitas operasional.

Lapangan yang berada di kawasan dengan daya beli tinggi dan akses yang mudah cenderung memiliki peluang lebih baik untuk mempertahankan tingkat kunjungan.

Segmentasi pasar juga menjadi semakin penting karena tidak semua wilayah memiliki karakteristik konsumen yang sama.

Selain itu, bisnis padel perlu berkembang dari sekadar penyewaan lapangan menjadi pembangun komunitas dan pengalaman.

 

FAQ Tentang Bisnis Padel Menurun

Apakah bisnis padel masih menguntungkan?

Masih berpotensi menguntungkan jika dikelola dengan baik dan memiliki tingkat okupansi yang stabil. Lokasi serta komunitas menjadi faktor penentu utama.

Mengapa bisnis padel menurun di beberapa wilayah?

Umumnya disebabkan oleh pertumbuhan lapangan yang terlalu cepat dibanding jumlah pemain aktif yang tersedia.

Apa penyebab lapangan padel sepi?

Beberapa faktor meliputi lokasi kurang ideal, persaingan tinggi, harga sewa yang tidak sesuai pasar, dan minimnya aktivitas komunitas.

Apakah tren padel sudah berakhir?

Belum. Padel masih memiliki basis pemain yang berkembang, meski pertumbuhan bisnisnya tidak secepat beberapa tahun lalu.

Bagaimana cara meningkatkan okupansi lapangan padel?

Pengelola dapat membangun komunitas, mengadakan turnamen rutin, menawarkan program latihan, dan meningkatkan kualitas layanan pelanggan.

 

Baca Juga:

Bahas Fenomena Labubu yang Dahulu Viral Kini Mereda

Apakah Fenomena Tren Matcha Akan Bertahan Lama?