Ringkasan Artikel: Kenapa Menantea Tutup?
- Menantea berdiri pada 2021 dan berkembang cepat melalui sistem franchise
- Keluhan mitra mulai muncul sejak 2023 terkait penjualan dan margin
- Harga bahan baku dan proyeksi bisnis menjadi sumber masalah
- Ditemukan dugaan manipulasi laporan keuangan internal
- Kerugian mencapai Rp38 miliar dan berdampak besar pada operasional
- Penutupan resmi dilakukan pada 25 April 2026
Menantea milik Jerome Polin resmi menghentikan seluruh operasionalnya pada 25 April 2026, mengejutkan banyak fans yang sebelumnya melihat brand ini berkembang pesat.
Pengumuman penutupan ini disampaikan melalui akun Instagram resmi @menantea.toko pada Sabtu, 11 April 2026, bertepatan dengan momen menjelang perayaan ulang tahun kelima brand tersebut.
Di balik penutupan tersebut, terungkap adanya dugaan penipuan dalam pengelolaan keuangan yang berdampak besar.
Hal ini memicu pertanyaan publik tentang “Kenapa menantea tutup?”
Meski sempat memiliki ratusan gerai di berbagai kota, kasus ini juga membuka sisi lain dari bisnis tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Associe akan membahasnya di artikel ini.
Awal Kesuksesan Menantea dan Ekspansi Franchise
Menantea didirikan pada April 2021 oleh Jerome Polin bersama kakaknya, Jehian Sijabat.
Didukung oleh popularitas Jerome sebagai kreator konten edukasi, brand ini langsung menarik perhatian pasar, terutama kalangan anak muda.
Dalam waktu relatif singkat, Menantea menunjukkan pertumbuhan yang sangat agresif. Bisnis ini tercatat telah memiliki lebih dari 200 outlet di seluruh Indonesia.
Pada 2022 jumlahnya mencapai sekitar 207 cabang yang tersebar di 76 kota. Dalam waktu sekitar satu tahun sejak berdiri, total gerai sempat menyentuh sekitar 209 outlet di 78 kota.
Keluhan Mitra dan Masalah Operasional yang Muncul
Masalah mulai mencuat pada Maret 2023 ketika sejumlah mitra menyampaikan keluhan di media sosial (X).
Mereka menyoroti perbedaan signifikan antara proyeksi keuntungan yang ditawarkan di awal dengan kondisi nyata di lapangan.
Beberapa mitra mengaku telah menginvestasikan modal besar, bahkan hingga ratusan juta rupiah.
Namun, penjualan harian jauh di bawah ekspektasi, dengan sebagian gerai hanya mampu menjual beberapa cup per hari.
Tidak hanya itu, harga bahan baku dari pusat dinilai cukup tinggi, kondisi ini membuat margin keuntungan semakin tipis dan berdampak langsung pada keberlangsungan bisnis mitra.
Masalah Internal dan Dugaan Pengelolaan Keuangan
Di balik masalah operasional, ternyata terdapat persoalan internal yang lebih serius, yaitu dugaan penipuan kepada Jerome Polin.
Manajemen mengakui adanya kesalahan dalam memilih partner bisnis serta kurangnya pengawasan terhadap operasional perusahaan.
Jerome Polin mengungkapkan bahwa laporan keuangan yang diterima selama ini hanya berbasis file Excel.
Dilansir dari Detik, Ia mengatakan, “Ketahuan, Excel itu bohong. Bisa di edit Excel kan,” yang menunjukkan adanya potensi manipulasi data.
Ia juga mengakui kelalaian dalam pengawasan keuangan dengan pernyataan, “Kesalahan gua adalah, gua enggak ngecek mutasi.”
Dari sini terungkap adanya dugaan penyelewengan dana yang berdampak besar terhadap kondisi finansial perusahaan.
Masalah ini memperparah situasi bisnis dan menjadi faktor penting yang menjelaskan kenapa menantea tutup setelah sebelumnya terlihat stabil.
Kerugian Rp38 Miliar dan Keputusan Menutup Menantea

Dampak dari berbagai masalah tersebut berujung pada kerugian besar.
Menantea dilaporkan mengalami kerugian hingga Rp38 miliar, angka yang cukup signifikan bahkan untuk bisnis dengan skala nasional.
Jerome bahkan menggunakan dana pribadinya untuk menjaga operasional tetap berjalan hingga kewajiban terhadap mitra selesai
Namun, kondisi keuangan yang tidak memungkinkan membuat keputusan penutupan menjadi langkah akhir, dengan operasional resmi dihentikan pada 25 April 2026.
Ungkapan ini memperkuat narasi bahwa Menantea milik jerome poline bangkrut karena dugaan penipuan.
FAQ Tentang “Kenapa Menantea Tutup?”
Apakah Menantea benar-benar bangkrut?
Menantea mengalami kerugian besar dan akhirnya menutup seluruh operasionalnya. Kondisi ini sering dianggap sebagai bentuk kegagalan bisnis.
Apa penyebab utama Menantea tutup?
Gabungan dari masalah operasional, keluhan mitra, dan dugaan pengelolaan keuangan yang tidak optimal.
Berapa total kerugian Menantea?
Kerugian yang dilaporkan mencapai sekitar Rp38 miliar.
Apakah semua mitra terdampak?
Tidak semua, tetapi banyak mitra mengalami penurunan performa bisnis.
Apa pelajaran dari kasus Menantea?
Pentingnya transparansi keuangan dan pengawasan dalam menjalankan bisnis, terutama dengan banyak partner.
Baca Juga:
Layoff Traveloka Jadi Sorotan, Ini Fakta Lengkapnya
H&M Tutup 160 Toko Global di 2026, Laba Turun & Fokus ke Online







