Associe

Table of Contents
Artikel Terbaru

Follow Associe

KBLI adalah Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia: Apa Itu dan Mengapa Penting bagi Bisnis?

KBLI adalah

KBLI adalah singkatan dari Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia. Ini adalah sistem klasifikasi yang digunakan untuk mengelompokkan semua jenis lapangan usaha yang ada di Indonesia berdasarkan karakteristik dan aktivitas utama mereka. KBLI adalah alat yang sangat penting bagi para pelaku usaha, baik yang sudah berjalan maupun yang baru akan memulai, karena memiliki banyak fungsi dan manfaat dalam dunia bisnis. Artikel ini akan menjelaskan apa itu KBLI, fungsi dan kriterianya, perbedaannya dengan KLU, struktur pengkodeannya, tips menentukan KBLI, studi kasus penerapannya, serta tantangan dan perkembangannya di masa depan.

Table of Contents

Pengertian KBLI

Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia atau sering disingkat KBLI adalah sistem klasifikasi yang mengelompokkan semua jenis lapangan usaha yang ada di Indonesia berdasarkan karakteristik dan aktivitas utama mereka. KBLI dibuat dan dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai lembaga resmi yang bertanggung jawab atas penyusunan dan pemutakhiran KBLI dengan tujuan untuk menyediakan data statistik yang akurat, terpadu, dan komparabel tentang struktur dan perkembangan lapangan usaha di Indonesia.

KBLI pertama kali diterbitkan dengan nama Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia (KLUI). Sejak itu, KBLI telah mengalami beberapa kali revisi dan penyempurnaan sesuai dengan perkembangan dunia usaha dan kebutuhan data. Revisi terakhir dilakukan pada tahun 2020 dengan mengacu pada International Standard Industrial Classification of All Economic Activities (ISIC) Rev. 4 yang dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). KBLI 2020 terdiri dari 21 seksi, 88 divisi, 259 kelompok, 821 golongan, dan 1.286 subgolongan.

Fungsi KBLI

KBLI memiliki banyak fungsi dan manfaat dalam dunia bisnis, di antaranya adalah:

  • Mengklasifikasikan lapangan usaha

KBLI membantu para pelaku usaha untuk mengidentifikasi dan menentukan jenis lapangan usaha yang sesuai dengan karakteristik dan aktivitas utama usaha mereka. Dengan demikian, mereka dapat mengetahui posisi dan persaingan usaha mereka di pasar.

  • Menyediakan data statistik

KBLI merupakan sumber data statistik yang dapat digunakan oleh pemerintah, lembaga penelitian, asosiasi usaha, media, dan masyarakat umum untuk menganalisis dan memahami kondisi dan perkembangan lapangan usaha di Indonesia. Data statistik yang dihasilkan dari KBLI meliputi jumlah usaha, tenaga kerja, produksi, nilai tambah, investasi, ekspor-impor, dan lain-lain.

  • Membantu dalam perencanaan bisnis dan strategi

KBLI dapat digunakan oleh para pelaku usaha untuk merencanakan dan menentukan strategi bisnis mereka, seperti menentukan target pasar, segmentasi, diferensiasi, positioning, bauran pemasaran, dan lain-lain. KBLI juga dapat membantu para pelaku usaha untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman bisnis, serta kekuatan dan kelemahan usaha mereka.

  • Memudahkan dalam perizinan usaha

KBLI merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh para pelaku usaha untuk mendapatkan izin usaha dari pemerintah. KBLI digunakan sebagai acuan dalam menetapkan jenis perizinan usaha yang diperlukan, seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dan lain-lain. KBLI juga digunakan sebagai dasar dalam menentukan tarif pajak dan bea usaha yang harus dibayarkan oleh para pelaku usaha.

Kriteria Pengelompokan KBLI 2020 beserta Kategorinya

KBLI 2020 menggunakan kriteria pengelompokan yang berdasarkan pada karakteristik dan aktivitas utama usaha, yaitu:

1. Karakteristik usaha

Ini adalah ciri-ciri yang melekat pada usaha, seperti sifat, bentuk, ukuran, lokasi, dan lain-lain. Contohnya, usaha pertanian, usaha industri, usaha jasa, usaha besar, usaha kecil, usaha mikro, usaha koperasi, usaha swasta, usaha pemerintah, dan lain-lain.

2. Aktivitas utama usaha

Ini adalah kegiatan yang paling menonjol dan mendominasi dalam usaha, seperti produksi, perdagangan, jasa, dan lain-lain. Contohnya, usaha pertanian yang bergerak di bidang tanaman pangan, usaha industri yang bergerak di bidang tekstil, usaha perdagangan yang bergerak di bidang e-commerce, usaha jasa yang bergerak di bidang konsultasi, dan lain-lain.

Berdasarkan kriteria tersebut, KBLI 2020 mengelompokkan lapangan usaha menjadi 21 seksi, yaitu:

  • Seksi A: Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
  • Seksi B: Pertambangan dan Penggalian
  • Seksi C: Industri Pengolahan
  • Seksi D: Pengadaan Listrik, Gas, Uap/Air Panas dan Udara Dingin
  • Seksi E: Penyediaan Air, Pengelolaan Sampah dan Daur Ulang, Pembuangan dan Pembersihan Limbah dan Sampah
  • Seksi F: Konstruksi
  • Seksi G: Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor
  • Seksi H: Transportasi dan Pergudangan
  • Seksi I: Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum
  • Seksi J: Informasi dan Komunikasi
  • Seksi K: Jasa Keuangan dan Asuransi
  • Seksi L: Real Estat
  • Seksi M: Kegiatan Jasa Profesional, Ilmiah, dan Teknis
  • Seksi N: Kegiatan Jasa Persewaan, Ketenagakerjaan, Agen Perjalanan, dan Penunjang Usaha Lainnya
  • Seksi O: Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib
  • Seksi P: Jasa Pendidikan
  • Seksi Q: Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial
  • Seksi R: Kegiatan Seni, Hiburan, dan Rekreasi
  • Seksi S: Kegiatan Jasa Lainnya
  • Seksi T: Kegiatan Rumah Tangga sebagai Pemberi Kerja; Kegiatan Rumah Tangga yang Menghasilkan Barang dan Jasa untuk Konsumsi Sendiri
  • Seksi U: Kegiatan Badan Internasional dan Badan Ekstra Internasional

Setiap seksi terdiri dari beberapa divisi, kelompok, golongan, dan subgolongan yang lebih spesifik dan detail. Contohnya, Seksi C: Industri Pengolahan terdiri dari 24 divisi, 72 kelompok, 181 golongan, dan 313 subgolongan. Salah satu divisi dalam Seksi C adalah Divisi 13: Industri Tekstil, yang terdiri dari 4 kelompok, 9 golongan, dan 17 subgolongan. Salah satu golongan dalam Divisi 13 adalah Golongan 131: Penyempurnaan dan Pemintalan Serat Tekstil, yang terdiri dari 3 subgolongan, yaitu:

  • Subgolongan 1311: Penyempurnaan dan Pemintalan Kapas
  • Subgolongan 1312: Penyempurnaan dan Pemintalan Serat Tekstil Buatan
  • Subgolongan 1313: Penyempurnaan dan Pemintalan Serat Tekstil Lainnya

Setiap subgolongan memiliki kode KBLI yang terdiri dari 5 angka, yang akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian berikutnya.

Perbedaan KBLI dan KLU

KBLI dan KLU adalah dua sistem klasifikasi yang sering disebut-sebut dalam dunia bisnis, tetapi banyak orang yang masih bingung tentang perbedaan dan hubungan antara keduanya. KBLI adalah Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia, sedangkan KLU adalah Klasifikasi Lapangan Usaha. Apa perbedaan dan hubungan antara keduanya?

KBLI adalah sistem klasifikasi yang dikeluarkan oleh BPS, sedangkan KLU adalah sistem klasifikasi yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP)

KBLI adalah sistem klasifikasi yang digunakan untuk mengelompokkan semua jenis lapangan usaha yang ada di Indonesia berdasarkan karakteristik dan aktivitas utama mereka. KBLI dikeluarkan oleh BPS sebagai lembaga resmi yang bertanggung jawab atas penyusunan dan pemutakhiran KBLI. KLU adalah sistem klasifikasi yang digunakan untuk menentukan tarif pajak yang berlaku bagi para pelaku usaha. KLU dikeluarkan oleh DJP sebagai lembaga resmi yang bertanggung jawab atas pengenaan dan pemungutan pajak.

KBLI memiliki struktur yang lebih detail dan komprehensif daripada KLU

KBLI terdiri dari 21 seksi, 88 divisi, 259 kelompok, 821 golongan, dan 1.286 subgolongan. Setiap subgolongan memiliki kode KBLI yang terdiri dari 5 angka. KLU terdiri dari 21 seksi, 88 divisi, 259 kelompok, dan 821 golongan. Setiap golongan memiliki kode KLU yang terdiri dari 4 angka. Dengan kata lain, KBLI memiliki tingkat subgolongan yang tidak dimiliki oleh KLU. Hal ini menunjukkan bahwa KBLI memiliki cakupan yang lebih luas dan spesifik daripada KLU.

KBLI dan KLU saling berkaitan dan konsisten satu sama lain

Meskipun KBLI dan KLU dikeluarkan oleh lembaga yang berbeda, keduanya saling berkaitan dan konsisten satu sama lain. Hal ini karena KLU mengacu pada KBLI dalam menentukan tarif pajak. Dengan demikian, setiap pelaku usaha yang sudah memiliki kode KBLI dapat dengan mudah mengetahui kode KLU dan tarif pajak yang berlaku bagi usaha mereka. Sebaliknya, setiap pelaku usaha yang sudah memiliki kode KLU dapat dengan mudah mengetahui kode KBLI dan jenis lapangan usaha yang sesuai dengan usaha mereka.

Struktur Pengkodean KBLI

KBLI memiliki struktur pengkodean yang terdiri dari 5 angka, yang masing-masing memiliki arti dan makna tertentu. Berikut ini adalah penjelasan singkat tentang struktur pengkodean KBLI:

1. Angka pertama menunjukkan seksi

Seksi adalah pengelompokan lapangan usaha yang paling umum dan luas, yang mencerminkan karakteristik usaha secara keseluruhan. Ada 21 seksi dalam KBLI, yang ditandai dengan angka 0 sampai 9 dan huruf A sampai U. Contohnya, Seksi C: Industri Pengolahan ditandai dengan angka 1, Seksi G: Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor ditandai dengan angka 4, dan Seksi J: Informasi dan Komunikasi ditandai dengan huruf J.

2. Angka kedua menunjukkan divisi

Divisi adalah pengelompokan lapangan usaha yang lebih spesifik dan mendetail daripada seksi, yang mencerminkan aktivitas utama usaha. Ada 88 divisi dalam KBLI, yang ditandai dengan angka 01 sampai 99. Contohnya, Divisi 13: Industri Tekstil ditandai dengan angka 13, Divisi 45: Perdagangan dan Perbaikan Kendaraan Bermotor dan Sepeda Motor ditandai dengan angka 45, dan Divisi 58: Penerbitan ditandai dengan angka 58.

3. Angka ketiga menunjukkan kelompok

Kelompok adalah pengelompokan lapangan usaha yang lebih spesifik dan mendetail daripada divisi, yang mencerminkan subaktivitas utama usaha. Ada 259 kelompok dalam KBLI, yang ditandai dengan angka 0 sampai 9. Contohnya, Kelompok 131: Penyempurnaan dan Pemintalan Serat Tekstil ditandai dengan angka 1, Kelompok 452: Perbaikan dan Pemeliharaan Kendaraan Bermotor ditandai dengan angka 2, dan Kelompok 581: Penerbitan Buku, Majalah, dan Lainnya ditandai dengan angka 1.

4. Angka keempat menunjukkan golongan

Golongan adalah pengelompokan lapangan usaha yang lebih spesifik dan mendetail daripada kelompok, yang mencerminkan subsubaktivitas utama usaha. Ada 821 golongan dalam KBLI, yang ditandai dengan angka 0 sampai 9. Contohnya, Golongan 1311: Penyempurnaan dan Pemintalan Kapas ditandai dengan angka 1, Golongan 4520: Perbaikan dan Pemeliharaan Kendaraan Bermotor ditandai dengan angka 0, dan Golongan 5811: Penerbitan Buku ditandai dengan angka 1.

5. Angka kelima menunjukkan subgolongan

Subgolongan adalah pengelompokan lapangan usaha yang paling spesifik dan mendetail, yang mencerminkan aktivitas usaha yang paling konkret. Ada 1.286 subgolongan dalam KBLI, yang ditandai dengan angka 0 sampai 9. Contohnya, Subgolongan 13111: Penyempurnaan Kapas ditandai dengan angka 1, Subgolongan 45201: Perbaikan dan Pemeliharaan Mesin dan Sistem Listrik Kendaraan Bermotor ditandai dengan angka 1, dan Subgolongan 58111: Penerbitan Buku Umum ditandai dengan angka 1.

Dengan demikian, setiap kode KBLI yang terdiri dari 5 angka dapat diuraikan menjadi seksi, divisi, kelompok, golongan, dan subgolongan yang menunjukkan jenis lapangan usaha yang dimaksud. Contohnya, kode KBLI 13111 dapat diuraikan menjadi:

  • Seksi C: Industri Pengolahan
  • Divisi 13: Industri Tekstil
  • Kelompok 131: Penyempurnaan dan Pemintalan Serat Tekstil
  • Golongan 1311: Penyempurnaan dan Pemintalan Kapas
  • Subgolongan 13111: Penyempurnaan Kapas

Hal ini berarti bahwa usaha yang memiliki kode KBLI 13111 adalah usaha yang bergerak di bidang industri pengolahan, khususnya industri tekstil, yang melakukan kegiatan penyempurnaan kapas.

Tips Mudah Menentukan KBLI bagi Para Calon Pelaku Usaha

Bagi para calon pelaku usaha yang ingin memulai usaha mereka, menentukan KBLI yang sesuai dengan usaha yang akan dijalankan adalah salah satu langkah penting yang harus dilakukan. KBLI akan menentukan jenis perizinan usaha, tarif pajak, dan data statistik yang berhubungan dengan usaha mereka. Namun, banyak calon pelaku usaha yang merasa kesulitan dalam menentukan KBLI yang tepat, karena KBLI memiliki banyak kategori dan subkategori yang cukup rumit dan membingungkan. Bagaimana cara mudah menentukan KBLI bagi para calon pelaku usaha?

Berikut ini adalah beberapa tips yang dapat membantu para calon pelaku usaha dalam menentukan KBLI yang sesuai dengan usaha mereka:

1. Mengidentifikasi karakteristik dan aktivitas utama usaha

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi karakteristik dan aktivitas utama usaha yang akan dijalankan. Karakteristik usaha mencakup sifat, bentuk, ukuran, lokasi, dan lain-lain. Aktivitas utama usaha mencakup produksi, perdagangan, jasa, dan lain-lain. Hal ini akan membantu dalam menentukan seksi dan divisi KBLI yang paling mendekati dengan usaha yang akan dijalankan.

2. Mencari referensi dari usaha sejenis

Langkah kedua yang dapat dilakukan adalah mencari referensi dari usaha sejenis yang sudah berjalan dan memiliki KBLI yang sama atau mirip dengan usaha yang akan dijalankan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengunjungi situs web, media sosial, atau lokasi usaha sejenis, dan melihat kode KBLI yang tertera pada dokumen perizinan usaha, profil usaha, atau informasi lainnya. Hal ini akan membantu dalam menentukan kelompok, golongan, dan subgolongan KBLI yang paling sesuai dengan usaha yang akan dijalankan.

3. Memanfaatkan sumber daya online dan panduan resmi

Langkah ketiga yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan sumber daya online dan panduan resmi yang tersedia untuk membantu dalam menentukan KBLI. Beberapa sumber daya online dan panduan resmi yang dapat digunakan adalah:

a. Fitur Pencarian KBLI Associe

Associe menyediakan fitur pencarian lengkap tentang KBLI, termasuk definisi, struktur, kriteria, kode berdasarkan kata kunci, kode, atau nama usaha. Fitur ini dapat diakses secara gratis oleh siapa saja yang ingin mengetahui lebih banyak tentang KBLI.

b. Situs web OSS

Situs web OSS adalah situs web resmi yang menyediakan layanan perizinan usaha secara online bagi para pelaku usaha. Situs web OSS juga menyediakan fasilitas bantuan dalam menentukan KBLI berdasarkan jenis usaha yang dipilih oleh para pelaku usaha. Situs web OSS dapat diakses secara gratis oleh siapa saja yang ingin mendapatkan perizinan usaha secara online.

Dengan menggunakan tips-tips di atas, para calon pelaku usaha dapat menentukan KBLI yang sesuai dengan usaha yang akan dijalankan dengan lebih mudah dan cepat. Hal ini akan memudahkan dalam proses perizinan usaha, pengenaan pajak, dan pengumpulan data statistik yang berkaitan dengan usaha mereka.

Contoh Penerapan KBLI dalam Dunia Bisnis

Untuk memberikan gambaran yang lebih nyata tentang bagaimana KBLI digunakan dalam dunia bisnis, berikut ini adalah beberapa studi kasus nyata tentang bagaimana KBLI digunakan dalam perencanaan bisnis, perizinan usaha, pengenaan pajak, dan pengumpulan data statistik.

Contoh 1: Perencanaan Bisnis

Rina adalah seorang wanita muda yang memiliki hobi membuat kue dan bermimpi untuk membuka usaha kue online. Sebelum memulai usahanya, Rina melakukan riset pasar untuk mengetahui potensi dan persaingan usaha kue online di Indonesia. Salah satu sumber data yang ia gunakan adalah data statistik dari KBLI. Rina mencari data statistik tentang jumlah usaha, produksi, nilai tambah, dan ekspor-impor untuk lapangan usaha yang berhubungan dengan usaha kue online, yaitu:

  • Seksi C: Industri Pengolahan
  • Divisi 10: Industri Makanan
  • Kelompok 107: Pembuatan Produk Roti, Kue Kering, dan Kue Basah
  • Golongan 1072: Pembuatan Kue Basah
  • Subgolongan 10721: Pembuatan Kue Basah dari Tepung Terigu

Dari data statistik yang ia dapatkan dari KBLI, Rina mengetahui bahwa usaha kue basah dari tepung terigu memiliki jumlah usaha yang cukup banyak, yaitu sekitar 20 ribu usaha pada tahun 2019. Namun, produksi, nilai tambah, dan ekspor-impor usaha kue basah dari tepung terigu masih rendah, yaitu sekitar 1 triliun rupiah, 500 miliar rupiah, dan 10 juta rupiah pada tahun 2019. Hal ini menunjukkan bahwa usaha kue basah dari tepung terigu memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan, tetapi juga memiliki persaingan yang ketat. Dengan demikian, Rina dapat merencanakan strategi bisnisnya dengan lebih baik, seperti menentukan target pasar, segmentasi, diferensiasi, positioning, bauran pemasaran, dan lain-lain.

Contoh 2: Perizinan Usaha

Andi adalah seorang pria muda yang memiliki hobi membuat aplikasi dan bermimpi untuk membuka usaha aplikasi online. Sebelum memulai usahanya, Andi harus mendapatkan izin usaha dari pemerintah. Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh Andi adalah menentukan KBLI yang sesuai dengan usaha aplikasi online yang akan dijalankan. Andi mencari KBLI yang paling mendekati dengan usaha aplikasi online, yaitu:

  • Seksi J: Informasi dan Komunikasi
  • Divisi 62: Kegiatan Jasa Terkait Teknologi Informasi dan Komputer
  • Kelompok 620: Kegiatan Jasa Terkait Teknologi Informasi dan Komputer
  • Golongan 6201: Kegiatan Jasa Konsultasi Komputer dan Manajemen Fasilitas Komputer
  • Subgolongan 62011: Kegiatan Jasa Konsultasi Komputer

Dengan mengetahui kode KBLI 62011, Andi dapat mengajukan izin usaha secara online melalui situs web OSS. Di situs web OSS, Andi dapat memilih jenis usaha yang sesuai dengan kode KBLI 62011, yaitu Jasa Konsultasi Komputer. Setelah memilih jenis usaha, Andi dapat mengisi data usaha, seperti nama usaha, alamat usaha, modal usaha, tenaga kerja, dan lain-lain. Setelah mengisi data usaha, Andi dapat mengunggah dokumen pendukung, seperti KTP, NPWP, akta pendirian usaha, dan lain-lain. Setelah mengunggah dokumen pendukung, Andi dapat men

Tantangan dan Perkembangan KBLI di Masa Depan

KBLI adalah sistem klasifikasi yang sangat penting bagi dunia bisnis, tetapi juga menghadapi beberapa tantangan dan kendala dalam mengakomodasi perkembangan bisnis modern. Beberapa tantangan dan kendala yang dihadapi oleh KBLI adalah:

  • Ketidaksesuaian antara KBLI dan realitas lapangan

KBLI dibuat dengan mengacu pada ISIC Rev. 4 yang dikeluarkan oleh PBB, yang merupakan standar internasional dalam klasifikasi lapangan usaha. Namun, ISIC Rev. 4 tidak selalu sesuai dengan realitas lapangan usaha di Indonesia, yang memiliki karakteristik dan kekhasan tersendiri. Hal ini menyebabkan adanya ketidaksesuaian antara KBLI dan realitas lapangan, seperti adanya jenis usaha yang tidak tercakup dalam KBLI, adanya jenis usaha yang ambigu atau tumpang tindih dalam KBLI, atau adanya jenis usaha yang tidak relevan atau tidak ada dalam KBLI.

  • Ketidakseragaman dan ketidakterpaduan KBLI

KBLI digunakan sebagai acuan oleh berbagai lembaga dan instansi yang terkait dengan dunia bisnis, seperti BPS, DJP, OSS, Kementerian, Lembaga, Asosiasi, Media, dan lain-lain. Namun, tidak semua lembaga dan instansi tersebut menggunakan KBLI yang sama atau terbaru dalam kegiatan dan layanan mereka. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti ketidaktahuan, ketidakpedulian, atau ketidaksinkronan antara lembaga dan instansi tersebut. Hal ini menyebabkan adanya ketidakseragaman dan ketidakterpaduan dalam penggunaan KBLI, seperti adanya perbedaan atau kesalahan dalam penentuan atau pelaporan KBLI, adanya kesulitan atau kebingungan dalam mencari atau membandingkan KBLI, atau adanya ketimpangan atau ketidakadilan dalam perlakuan atau pelayanan KBLI.

Untuk mengatasi tantangan dan kendala tersebut, KBLI memerlukan upaya-upaya yang dapat meningkatkan kualitas, relevansi, dan efektivitasnya dalam mengklasifikasikan lapangan usaha di Indonesia. Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah:

  • Melakukan penyesuaian KBLI

Hal ini dapat dilakukan dengan cara melakukan survei, riset, konsultasi, atau diskusi dengan para pelaku usaha, pakar, akademisi, atau pihak-pihak yang terkait dengan dunia usaha untuk mengetahui dan memahami realitas lapangan usaha di Indonesia. Dengan demikian, KBLI dapat disesuaikan dan disesuaikan dengan karakteristik dan kekhasan lapangan usaha di Indonesia, sehingga dapat mencakup, membedakan, dan merepresentasikan jenis usaha yang ada di Indonesia dengan lebih akurat dan tepat.

  • Sosialisasi KBLI

Hal ini dapat dilakukan dengan cara melakukan edukasi, komunikasi, koordinasi, atau kerjasama dengan berbagai lembaga dan instansi yang terkait dengan dunia bisnis, seperti BPS, DJP, OSS, Kementerian, Lembaga, Asosiasi, Media, dan lain-lain. Dengan demikian, KBLI dapat disosialisasikan dan diharmonisasikan secara luas dan terpadu, sehingga dapat meningkatkan kesadaran, pemahaman, dan kepatuhan terhadap penggunaan KBLI yang sama atau terbaru, serta mengurangi perbedaan, kesalahan, atau ketimpangan dalam penentuan, pelaporan, pencarian, atau pembandingan KBLI.

IX. Kesimpulan

KBLI adalah Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia yang digunakan untuk mengelompokkan semua jenis lapangan usaha yang ada di Indonesia berdasarkan karakteristik dan aktivitas utama mereka. KBLI memiliki banyak fungsi dan manfaat dalam dunia bisnis, seperti mengklasifikasikan lapangan usaha, menyediakan data statistik, membantu dalam perencanaan bisnis dan strategi, memudahkan dalam perizinan usaha, dan lain-lain.

KBLI memiliki struktur pengkodean yang terdiri dari 5 angka, yang masing-masing memiliki arti dan makna tertentu. KBLI juga memiliki hubungan dan perbedaan dengan KLU, yaitu sistem klasifikasi yang digunakan untuk menentukan tarif pajak. KBLI menghadapi beberapa tantangan dan kendala dalam mengakomodasi perkembangan bisnis modern, tetapi juga melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan kualitas, relevansi, dan efektivitasnya dalam mengklasifikasikan lapangan usaha di Indonesia.

Dengan mengetahui apa itu KBLI, fungsi dan kriterianya, perbedaannya dengan KLU, struktur pengkodeannya, tips menentukan KBLI, studi kasus penerapannya, serta tantangan dan perkembangannya di masa depan, para pelaku usaha, baik yang sudah berjalan maupun yang baru akan memulai, dapat memanfaatkan KBLI dengan lebih baik dan optimal dalam konteks bisnis. KBLI adalah alat yang sangat penting bagi pembangunan ekonomi, karena dapat mencerminkan dan mendukung perkembangan lapangan usaha di Indonesia.

Mau Mendirikan PT?

Associe bisa bantu kamu dalam mendirikan PT

Layanan Associe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *